Review: Oishii Jungle – The Adventure of Shasa and Friends

Standard

” From a big city to the jungle, apakah sebuah ikatan persahabatan akan mampu menjadi sumber energi bagi Shasa untuk mengatasi semua kesulitannya?”

Novel ini dibuka dengan Shasa yang tengah menunggu Era di pinggir danau tepatnya danau di universitas tempat mereka kuliah. Era sendiri merupakan teman lama Shasa sejak SMP. Era yang hobi menjelajah Indonesia dianggap Shasa mampu membantunya untuk menjawab tantangan Akiko, warga negara Jepang yang dulu sempat menjadi tetangganya.

”Saya ingin berpetualang ke tempat yang tidak akan saya lupakan seumur hidup,” begitu jawaban Akiko. ”Saya ingin melihat sisi lain keindahan Indonesia yang tidak akan saya temukan di negara lain.” (Hal. 9)

Itulah tantangan Akiko pada Shasa. Bromo, Yogya, Bali dan Lombok sudah ditolak Akiko. Shasa yang gengsi takut dikira nggak cinta Tanah Air dan tergiur di traktir nonton Kabuki oleh Akiko langsung bersusah payah mewujudkan tantangan Akiko termasuk minta tolong Era, sahabatnya yang terkenal jahil ini.

Akhirnya, setelah berdiskusi cukup panjang kedua sahabat lama ini pun memutuskan untuk memilih, Taman Nasional Tanjung Puting.

Taman Nasional Tanjung Puting

Dengan bantuan Heru yang juga teman SMP Shasa dan Era mereka menyusun sebuah liburan tak terlupakan bagi Akiko. Selain Shasa, Era, Heru dan Akiko masih ada satu tokoh lagi yang akan ikut menghiasi cerita dalam novel ini. Kenji. Dia adalah kakak Akiko yang akan ikut serta dalam petualangan menjelajah pedalaman Borneo.

Berhasilkah mereka? Tantangan apa saja yang akan mereka lalui?

Apakah perjalanan ke Tanjung Puting cukup untuk menjawab tantangan Akiko pada Shasa?

Kita akan temukan jawabannya di novel ini.


Oishii Jungle..Oishii…Oishii…Oishii

Novel ini sarat akan kisah persahabatan. Persahabatan dalam suka maupun duka. Gak cuma saat seneng tapi juga saat sedih. Semua tokoh dalam novel ini sudah menggambarkan kisah persahabatan dengan baik menurutku.

Typo alias salah ketik di novel ini gak banyak kok. Dari awal sampai akhir cuma aku temui satu aja.

Nggaknyangka lo punya rasa khawatir juga.” SeharusnyaNggak nyangka lo punya rasa khawatir juga. (Halaman 54)

Latar waktu, tempat maupun suasana juga sudah dideskripsikan dengan baik oleh kak Erlita P. Dan untuk tokohnya favoritku adalah Era. Aku suka sama karakternya yang usil tapi selalu sedia membantu temannya.

“Era memang anak yang usil. Tadinya kupikir setelah kuliah, Era tidak akan usil lagi. Namun, ternyata tidak. Era tetaplah Era, yang walaupun usil, dialah sahabat setia yang selalu siap membantuku kapan saja.” (Halaman 4)

Selain usil, karakter Era yang aku suka adalah dia pintar membagi waktu dan bisa cari uang sendiri.

“Aku menatap Era. Di waktu luangnya, Era mengajar private beberapa mata pelajaran untuk anak-anak SMP. Tidak heran kalau dia punya tabungan dengan jumlah yang lumayan.” (Halaman 19)

Untuk kutipan-kutipan dalam novel ini bisa dibilang banyak. Beberapa kutipan dalam novel ini adalah sebagai berikut:

”Sejatinya, sebuah persahabatan tidak akan lekang oleh waktu dan rentang jarak yang memisahkan.” (Halaman 190)

”Walaupun sedih, perpisahan harus terjadi. Harus ada. Karena tanpa perpisahan, tidak ada pertemuan.” (Halaman 191-192)

Keterangan Buku:

Penulis: Erlita P.

Penerbit: Grasindo

Desain sampul & ilustrasi: Agrietia Agusti

Penata isi: Yusuf Pramono

Tanggal terbit: 14-04-2014

Rating: 4 of 5 stars

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s