Review: Looking for Alaska | John Green

Standard
Review: Looking for Alaska | John Green

Sampul Depan Looking for Alaska

“Mengetahui kata-kata terakhir adalah kenikmatan bagiku. Orang lain menggilai cokelat; aku menggilai pernyataan saat sekarat.” (Miles Halter – Halaman 18)

Miles Halter melakukan sebuah keputusan besar dalam hidupnya yang datar. Mencoba untuk mencari yang disebut penyair Francois Rabelais sebagai “Kemungkinan Besar”. Dari Florida ia meniggalkan keluarganya dan sisa masa remajanya untuk pergi ke sekolah asrama Culver  Creek di Alabama. Segala kegilaan akan mulai dilaluinya di sini.

Perkenalkan “Kolonel” Chip Martin.

Chip Martin atau yang biasa dipanggil Kolonel adalah teman sekamar Miles.

“Tinggi pemuda itu hanya 150 sentimeter, tetapi tubuhnya kekar, seperti miniature model Adonis, dan ia menguarkan bau rokok.” (Miles Halter – Halaman 17)

Kolonel adalah orang yang ramah.  Yang paling aku suka dalam tokoh kolonel adalah sifat setia kawannya.  Ada dua hal penting yang dilakukan Kolonel untuk Miles, setelah mereka bertemu. Pertama memberikannya julukan “Pudge”

“Karena kau kurus kering. Ini namanya ironi, Pudge.” (Kolonel – Halaman 22)

Dan yang kedua membuat Miles bertemu dengan Alaska. Wanita yang sempurna di mata Miles, membuatnya terpesona.

Berikutnya adalah Alaska Young

Lucu, seksi, menawan, kacau, dan sangat memikat. Serta pintar. Alaska secara tidak langsung adalah sumber dari segala hal-hal baru yang dialami Miles di Culver Creek. Alaska, Kolonel, Miles, Takumi, dan seorang lagi bernama Sara menikmati semua kebahagiaan dan kejahilan yang mereka lakukan di Culver Creek.

Hingga salah satu dari mereka menghilang…

Saat lihat buku ini berada di deretan rak toko buku, keinginan membaca udah bulat. Yang menarik pertama adalah sampul depannya, aku suka model tulisan untuk judul buku ini. Hal kedua yang menarik adalah sinopsis di sampul belakangnya. Deskripsi tentang Alaska membuat yakin jalan cerita tidak pernah membosankan.

Keputusan buat membaca pun nggak salah. Buku yang ditulis oleh penulis yang sama dengan The Fault in Our Stars ini menggunakan alur campuran. Dibagi menjadi dua bagian, sebelum dan sesudah. Terjemahannya juga mudah dimengerti. Meski ada beberapa kata yang mungkin akan dianggap asing seperti, pengar.

Kalimat-kalimat favorit dalam novel ini:

‘’… bahwa semua orang yang mengarungi waktu pada akhirnya akan terseret arus keluar – bahwa, singkatnya, kita semua akan pergi.” (Looking for Alaska – Halaman 156)

“Aku sedang belajar, jadi ajari aku.” (Looking for Alaska – Halaman 45)

“Tak ada yang salah. Tapi penderitaan selalu ada …” (Looking for Alaska – Halaman 108)

“Ada masa ketika kita menyadari bahwa orang tua kita tidak bisa menyelamatkan diri mereka sendiri atau menyelamatkan kita…” (Looking for Alaska – Halaman 156)

“Kita tak pernah harus putus asa, sebab kita takkan pernah rusak tanpa dapat diperbaiki.” (Looking for Alaska – Halaman 277,278)

Sebelum. Begitu menyenangkan, penuh tawa kebahagiaan, kebersamaan, seru… seru sekali.

Sesudah. Segalanya tak pernah sama lagi.

Keterangan Buku:

Judul: Looking for Alaska (Mencari Alaska)

Penerjemah: Barokah Ruziati & Sekar Wulandari

Desain sampul: Martin Dima

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 288 hlm

ISBN: 978 – 602 – 03 – 0732 – 9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s