[STORY] Min Ah’s Choice

Standard

zombie prom dress carrie bride blood splatter white lace splattered pin up wedding dress 32 - 36 inc-f15654Satu…dua…tiga… Ah, entah sudah berapa kali Min Ah mengerjap-ngerjapkan kedua mata indahnya. Namun, apapun yang terjadi saat ini sama sekali tidak berubah. Keringat dingin membasahi kedua telapak tangannya, persis seperti itu setiap kali dia merasa gelisah. Rambutnya yang hitam panjang tergerai acak-acakan. Ia tak begitu peduli. Min Ah meyakinkan dirinya untuk yang kesekian kalinya bahwa ini bukan mimpi. Tapi sayang, ini Kenyataan.

Cairan itu sekarang sudah mengering di gaun putih tanpa lengan miliknya. Kental, amis, dan berwarna merah pekat cairan itu tadinya. Darah itu telah mengering di gaun Min Ah. Memberikan warna tersendiri di gaun putih itu.

Tak jauh dari Min Ah yang bertelanjang kaki terlihat pecahan kaca botol sampanye berserakan. Pecahan botol yang terlihat di atas tempat tidur itu yang terlihat bagai mimpi buruk untuk Min Ah. Perlahan ia ingin mengambil pecahan itu tetapi diurungkan seperti sebelumnya.

“Kau tahu kan ini bukan salahku? Benar ini bukan salahku,”

Sekali lagi ia menegok ke tempat tidur, air mata perlahan menetes dari mata itu. Dia mencoba menyentuh tangan pria yang terbujur lemas di tempat tidur itu. Ini memang karenanya tapi fakta itu coba ditampik mentah-mentah oleh Min Ah sendiri.

Jika saja ia tak melihat tunangannya berselingkuh. Jika saja ia tadi tak menanyakan mengenai hal itu. Jika saja ia tadi tak marah. Jika saja ia membiarkan dirinya diselingkuhi. Jika saja tadi tak ada botol sampanye itu. Jika saja ia tak memukul tunangannya dengan botol itu. Jika saja ia tetap diam dan pura-pura tak tahu.

Ini tak akan terulang lagi. Harapannya untuk menikah dengan orang kaya telah pupus. Harapannya untuk membayarkan segala hutang keluarganya telah hancur. Satu-satunya yang ada di hadapan Min Ah adalah penjara. Ruangan dingin, gelap, dan tak nyaman.

Ia menangis sambil menggigit bibir bawahnya, menahan agar suaranya tak keluar. Min Ah meyakinkan dirinya. Sambil menutup mata, ia mencabut pecahan kaca sampanye yang menancap di kepala tunangannya. Dia menggenggam pecahan itu dengan kuat, tak peduli darah yang menetes dan rasa sakit yang timbul.

Min Ah yakin ini satu-satunya jalan.

Keesokan harinya tempat Min Ah gelisah semalam telah dipenuhi polisi. Semalam keputusan terbesar dalam hidup Min Ah telah dibuat. Dengan tangan berlumuran darah ia menekan nomor telepon 119 di ponselnya. Memberitahukan mengenai peristiwa pembunuhan yang telah terjadi.

Untuk terakhir kalinya Min Ah menangis malam tadi. Keputusan kedua dilakukan olehnya. Dengan pecahan kaca yang sama ia bunuh diri, memutus pembuluh nadi di pergelangan tangan kirinya. Dua kantung mayat telah diangkut dari Tempat Kejadian Perkara (TKP). Pelaku dan korbannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s