Review: Girls in The Dark

Standard

GirlsInTheDark

Gadis itu mati. Ketua Klub Sastra. Shiraishi Itsumi, mati. Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu. Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan.

Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi…

Kau pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

Pertemuan rutin klub sastra ini bertema yami-nabe. Secara harafiah berarti “panci dalam kegelapan”. Peserta akan membawa bahan makanan yang dirahasiakan dari orang lain dan semua orang harus memakannya dalam kegelapan. Salon, tempat berkumpul para anggota klub sastra yang mewah pun menjadi tidak terlihat kalau gelap.Chandelier dari kristal hitam Baccarat yang tergantung di atas meja marmer oval dikelilingi para anggota klub sastra telah diredupkan.

Sumikawa Sayuri. Wakil Ketua Klub Sastra kini menjadi Ketua Klub Sastra menggantikan Itsumi. Dipimpin olehnya para anggota Klub Sastra yang hadir membacakan naskah mereka satu per satu. Ditemani lilin, membuat suasana pertemuan itu khidmat dan gaib.

Nitani Mirei, Kominami Akane, Diana Detcheva, Koga Sanoko Takaoka Shiyo, dan terakhir Sumikawa Sayuri. Tak disangka, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya.

Karena Itsumi lah kastel impian kita, anggota klub sastra ini dapat terwujud.

Shiraishi Itsumi benar-benar nampak sempurna. Anggun, cerdas, cantik, berkharisma, dan berjiwa pemimpin, dia juga kaya dan baik hati. Hal-hal yang dimilikinya begitu sempurna dengan semua itu tak salah banyak yang menyukai Itsumi. Lalu, kenapa dia mati?

Pembunuhan? Siapa yang tega membunuh gadis seperti Itsumi? Gadis seperti itu mana ada yang akan menyakitinya. Itsumi tak memiliki musuh. Dia memiliki banyak teman. Semua sahabatnya di Klub Sastra yang selalu ada disisinya.

Jadi, apa dia bunuh diri? Tapi, kenapa? Itsumi selalu menjadi yang terbaik. Keluarganya sempurna. Kehidupannya sempurna. Dirinya juga sempurna.

Tapi… bukankah tak ada yang sempurna di dunia ini. Bagian mana yang tak sempurna dari Shiraishi Itsumi? Dan bunga lily itu, apa artinya?

Ah, cukup sehari untuk menyelesaikan novel ini. Girls in The Dark adalah novel kedua terjemahan Jepang setelah The After-Dinner Mysteries yang pernah aku baca. Dalam novel ini bukan hanya satu atau dua sudut pandang karena cerita diambil dari sudut pandang semua anggota klub sastra. Novel ini sebenarnya berisi analisis-analisis yang dibacakan dalam yami nabe. Yang paling menjadi favorit dalam Girls in The Dark adalah akhir ceritanya. Sulit ditebak dan jadi kejutan tersendiri. Novel ini juga dengan baik menggambarkan setting tempat, sehingga kita bisa dengan mudah mengimajinasikan mewahnya salon Klub Sastra. Sampul depan novel ini juga keren menurutku, misterius dan dingin bisa kita lihat dari tatapan wanita berseragam SMU itu.

Banyak pesan yang diambil dari novel bersetting sekolah putri, SMA Santa Maria ini.

-Setiap orang memiliki rahasia masing-masing dalam dirinya.- -Segala yang nampak baik di luar belum tentu juga begitu di dalam.- -Manusia, tak ada manusia yang sempurna di dunia ini-

Senyum itu mungkin saja hanya kepalsuan. Dan, pujian itu bisa jadi hanya kemunafikan.

“Kalian tidak akan pernah bisa keluar dari kisahku.” [Halaman 266]

Keterangan Buku:

Judul: Girls in The Dark

Penulis: Akiyoshi Rikako

Penerjemah: Andry Setiawan

Penyunting: Nona Aubree

Proofreader: Dini Novita Sari

Design Cover: Kana Otsuki

Ilustrator: @teguhra

Penerbit: Penerbit Haru

Terbit: Cetakan pertama, Mei 2014

Halaman: 279

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s