Quiz untuk GA novel Astilbe (2) – Dua Pasang Mata

Standard

sumber: 007beritaterkini.blogspot.com

 

Iringan lagu pengantin memenuhi seluruh ruangan. Seorang wanita dengan gaun putih berekor panjang berjalan dengan anggunnya. Wanita itu…..aku.

Beberapa saat sebelumnya…

“Berhentilah menangis, Anna!” Bibi membentakku. Suaranya masih lantang sama seperti 12 tahun yang lalu.

Aku hanya diam, tak ada yang keluar dari mulutku untuk membantahnya. Di belakang bibi berdiri Ina, anak semata wayangnya. Ina anak yang baik, dia selalu membelaku saat Ibunya memarahiku. Tapi untuk kali ini dia diam. Aku tau, dia tak bisa membantu apapun untukku saat ini.

“Cepat, Anna! Kau ingin membuatku malu, huh?” seru bibi lagi.

“Baiklah.” Aku segera menghapus air mataku. Menghirup napas dalam-dalam mencoba menenangkan diri, tapi tidak berhasil. Air mata ingin sekali keluar dari mataku tapi nyatanya tak ada yang menetes. Apa mereka juga takut terhadap bibiku?

Cerita hidupku memang akan terdengar biasa saja. Kecuali jika benar-benar mengalaminya sepertiku.

Usiaku dua belas tahun saat kedua orangtuaku bercerai. Hal itu sangat mengejutkanku, sebelumnya kupikir mereka saling mencintai, tidak pernah bermasalah. Aku memiliki seorang adik laki-laki yang berusia enam tahun ketika itu, Hamka. Satu-satunya yang kupikirkan saat kedua orangtuaku bercerai adalah akan selalu menjaga Hamka, berada di sisinya dan tidak pernah meninggalkannya. Namun, malah Hamka yang meninggalkanku. Satu bulan setelah perceraian itu, ibu membawa Hamka pergi bersamanya tanpa aku. Nenek dari pihak ayah yang kasihan padaku kemudian membawaku ikut bersamanya. Ayah setuju dengan hal itu atau lebih tepatnya tidak peduli.

Belakangan aku tahu alasan perceraian itu adalah ayah yang berselingkuh. Dan aku juga tahu alasan kenapa ibu hanya membawa Hamka tanpa aku. Wanita yang menjadi selingkuhan ayah adalah guru les privat bahasa Inggrisku.

“Ibumu membencimu karena itu, Na. Kau yang pilih guru bahasa Inggris itu, kau juga yang membuat ayahmu dekat dengan guru bahasa Inggris itu.” Aku meneteskan air mata saat nenek mengatakan hal itu di usiaku yang ketiga belas.

Selama ini aku benar-benar merasa kesepian jika tidak ada nenek. Ibu tidak pernah menghubungiku dan ayah malah menikah dengan guru itu, akhirnya. Setelah itu mereka tinggal berdua, kembali tanpa aku. Kadang aku berpikir, apa mereka tidak menyayangiku? Padahal aku sungguh menyayangi mereka, orangtuaku.
Suatu saat kondisiku menjadi sungguh menyedihkan. Saat itu, nenek meninggalkanku selamanya. Tidak ada yang menemaniku lagi, yang kulakukan hanya bisa menangis semalaman. Keesokan harinya saat aku bangun, bibi (adik ayah) datang menjemputku. Dia menawari aku tinggal di rumahnya, sebenarnya ayah yang memohon padanya. Dan sejak saat itu penderitaanku dimulai.

Kembali ke masa sekarang…

Satu-satunya hal yang membuat hatiku sakit adalah tamu yang hadir nantinya. Yang memandangku dengan mata yang menyiratkan, aku ikhlas melepasmu. Dia pasti hadir, bibi memaksaku untuk mengundangnya. Rasanya lebih sakit dibandingkan ketidakhadiran ibu dan adikku.

“Udah siap Mbak Anna?”

“Ahh…harus siap, In.” Aku tersenyum pada Ina. Ruangan ini terlihat lebih indah dibandingkan saat bibi ada di dalamnya.

Hari pernikahan ini hampir keseluruhan diatur oleh bibi. Mulai dari dekorasi, tamu undangan, bahkan mempelai prianya. Aneh memang, tapi aku memang dijodohkan. Pria itu bernama Joshua, anak teman bibi. ‘’Kamu nggak akan sengsara. Dia itu anak baik,” kata bibi padaku.

Memang benar Joshua baik sekali. Aku tahu dia mencintaiku dan dia juga tahu aku mencintai pria lain. Karena itu, dia selalu berusaha mengambil hatiku. Kuakui, perasaan suka mulai tumbuh. Sayangnya, rasa suka itu juga selalu diiringi rasa sedih dan kecewa. Orang-orang yang aku cinta dan sayang selalu meninggalkanku, tidak pernah jadi milikku.

***

Aku merasa sedikit gugup. Diiringi musik yang mengalun damai, kakiku mulai melangkah. Tak terasa aku sudah sampai di hadapan Joshua. Dia tersenyum begitu manis. Setelah segala janji diucapkan, Joshua meraih tanganku. Mengambil sebuah cincin untuk dipasangkan di jariku. Aku gugup. Kualihkan pandanganku ke arah para tamu undangan. Tatapan mereka menanti-menati, kecuali satu orang. Berdiri di barisan depan. Sulit kujelaskan, semakin kulihat aku makin terluka. Dia mantan pertama dan terakhirku, Dion.

Aku kembali menatap Joshua. Mata coklatnya terlihat indah. Lalu, kualihkan pandanganku pada Dion. Mata hitamnya menyambutku. Dua pasang mata yang paling berarti bagiku hari ini. Banyak orang bilang hidup pilihan tapi kenapa aku tak bisa memilih pilihanku? Cincin ini terasa pas di jariku, tanpa sadar aku tersenyum. Air mata tidak membantuku selama ini, aku harap senyuman bisa membuat semuanya jadi lebih baik.

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s