Titik Titik Tetes Hujan

Standard
glass-97504_640

sumber: pixabay.com

Hembusan angin pertanda hujan. Jendela di lantai dua rumah dengan cat putih gading itu terbuka. Berbeda dengan beberapa rumah di sekitarnya yang menutup rapat pintu dan jendela ketika angin datang. Gadis itu duduk di dekat sana, di sebuah kursi santai berwarna merah muda. Mata cantiknya menatap lurus ke luar, melihat daun-daun pohon mangga di halaman rumahnya, yang menari mengikuti arah angin. Tangan kanannya memegang sebuah buku dengan sampul berwarna hitam. Di sampul itu terdapat dua orang wanita yang berdiri di sebuah cermin, saling memandang satu sama lain.

Buku itu tebal, tapi Rea tidak pernah bosan membacanya. Dia suka karakter utama yang menjadi segala pusat cerita di dalamnya. Dia begitu kesepian dan penuh luka masa lalu, sama seperti dirinya. Hanya saja, tokoh itu dapat tumbuh menjadi orang yang tegas dan penuh rasa percaya diri, berbeda dengannya. Decitan pelan pintu kamar Rea membuyarkan imajinasi tentang angin yang dilihatnya melalui jendela kamar.

“Kak Rea belum tidur?” suara itu terdengar begitu pelan.

“Belum. Kenapa, Dik?” jawab Rea pada adiknya sambil menyisipkan rambut ke belakang daun telinga.

Yang ditanya diam tak menjawab. Dia hanya berjalan semakin mendekati Rea lalu duduk di sampingnya. Kepalanya disandarkan pada pundak Rea, dengan tubuh terbilang kurus, pundak Rea dapat dibilang kokoh. Dulu, dulu sekali pundak itu dipakainya memanggul tas ransel ketika naik gunung, menjelajah hutan, dan berkeliling mengikuti arus sungai ketika di Kalimantan.

“Kak Re nggak mau keluar? Ini kan musim liburan, masa Kakak nggak mau keluar ke mana, gitu,” ucap adik Rea, Lina.

“Nggak. Kalau kamu keluar Kakak titip buku di toko buku aja, ya. Yang di rak new release. Cari yang tema action. Kakak lagi pengen baca novel action.”

“Kakak, itu nggak bisa move on? Harusnya Kakak tahu itu bukan salah siapapun.” Lina tidak menanggapi perkataan kakaknya.

“Apa selama ini Kakak nggak lihat Papa sama Mama yang khawatir sama? Mereka takut Kakak akan terus terpuruk. Come on, ini udah hampir 2 tahun,” lanjut Lina tanpa memperhatikan wajah Rea yang menatap sinis ke arahnya.

“Keluar! Sekarang!” Rea tiba-tiba bangkit. Membuat Lina yang bersandar kepadanya jatuh. Lina menatap kakaknya sebentar. Dia ragu, tapi kemudian langkahnya tetap menuju pintu keluar. Meninggalkan Rea sendiri lagi di kamar itu.
Rea memejamkan kedua matanya. Ingatannya lalu kembali ke saat itu.

“Rea..!!!Rea!!!” Teman-teman Rea berseru memanggil namanya di pinggir sungai. Suara mereka terdengar lebih pelan, tertutup bunyi hujan yang mengguyur dengan deras.
“Kita harus gimana?” Alka bertanya pada Kikan di sampingnya. Yang ditanya hanya menggeleng. Sama seperti Alka, wajah Kikan menyiratkan rasa panik, takut, dan khawatir. Untuk Rea.

BYURRR!!!

Alka dan Kikan sontak menoleh ke arah Vino. Dia sudah tidak ada di tempat. Vino memutuskan menolong Alka yang tenggelam. Arus yang deras ini sudah menyeret Rea, kemampuannya berenang hilang seketika.
Kikan mendekati bibir sungai. Dia akan meraih Rea yang sudah berhasil diselamatkan Vino. Dengan tambahan tenaga dari Alka, seluruh tubuh Rea kini telah terangkat dari sungai.

“Aku selamat,” ucap Rea singkat, ditujukan pada Vino. Tapi dimana Vino?

Alka dan Karin kembali berteriak. Tapi kali ini berbeda, mereka tidak menyebut nama Rea melainkan Vino.

Rea membuka matanya kembali. Air mata menetes perlahan. Dia lalu menatap keluar, melihat pemandangan apapun Rea selalu teringat Vino. Dia lalu kembali duduk di kursi santai. Mata Rea kemudian melihat ke sampul cantik, buku kesukaannya itu.

Kenapa judul buku ini, menginginkan orang lain mati?

Aku tak pernah ingin siapapun mati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s