Paper Towns by John Green

Standard

paper townsQuentin Jacobsen telah mengenal Margo Roth Spiegelmen sejak lama. Bisa dibilang dialah orang yang pertama kali mengenal Margo dibanding teman-teman SMA-nya. Quentin dan Margo saling bertetangga sejak lama. Mereka sangat dekat sejak kecil. Sering bermain bersama, bersepeda bersama bahkan menemukan mayat seorang pria-Robert Joyner di taman secara bersama-sama.

Sayangnya semakin dewasa Q dengan Margo semakin menjauh. Mereka tidak sedekat dulu lagi. Q hanya menjadi murid biasa, mengikuti pelajaran seperti lainnya dan memiliki catatan absen yang sempurna. Sedangkan Margo tumbuh menjadi siswi SMA yang berbeda. Dia terkenal, cantik dan disukai banyak orang. Margo begitu istimewa, melakukan kisah-kisah petualangan yang berembus ke seantero sekolah bagai badai musim panas.

“…Margo Roth Spiegelmen yang menghabiskan tiga hari berkelana bersama rombongan sirkus – mereka menganggap dia punya bakat bermain trapeze. Margo Roth Spiegelmen, yang minum teh herba di belakang panggung dengan The Millionaires seusai konser di St. Louis sementara grup itu menenggak wiski.” [Halaman 23]

Hingga pada suatu malam Margo datang menemui Q lewat jendela kamarnya. Meminta Q meminjamkan mobilnya atau lebih tepatnya mobil ibu Q, untuk melaksanakan 11 misi Margo malam itu juga. Dan Q setuju meskipun dia besok harus sekolah. Hingga misi terakhir selesai, semuanya berjalan cukup mulus.

Dengan terkantuk-kantuk Q berangkat sekolah, namun Margo tidak. Beberapa hari berlalu Margo tetap tidak terlihat. Lalu kenyataan menghantarkan Q bahwa Margo menghilang. Dibantu Ben dan Radar, Q berusaha mencari jejak-jejak Margo yang biasanya ditinggalkan ketika dia menghilang.

“Lepaskan kunci-kunci dari pintu-pintu!

Lepaskan pintu-pintu dari kosennya!”

[Halaman 133]


Membaca Paper Towns menurutku seperti menonton kartun-kartun di MN* TV. Menarik tapi jika diulang -ulang pasti rasanya bosan. Novel ini rerdiri dari 3 bagian: Senar (bagian 1), Rerumputan (bagian 2), Wadah (bagian 3). Saat membaca bagian satu dan tiga, aku mengikuti alur cerita dengan sekali baca. Sedangkan di bagian kedua yang merupakan bagian paling banyak harus berkali-kali berhenti membaca.

Padahal di bagian inilah Q mencari petunjuk-petunjuk tentang Margo. Hanya saja karena terlalu penuh dengan Margo, rasanya jadi mengantuk saat bacanya. Q yang rela melewatkan prom demi Margo. Q yang rela tidur malam untuk lebih memahami petunjuk Margo dari sebuah puisi karya Whitman yang berhasil ditemukaannya.

Menurutku, terlepas dari Q yang terlalu peduli dengan Margo sehingga bagian kedua menjadi cukup membosankan novel ini cukup bagus. Dihiasi berbagai kejadian-kejadian lucu. Hampir ditembak, mencukur alis, mobil ‘terbakar’, dan akrobat tong bir. Juga tidak bisa dilupakan gaya menulis John Green yang membuat Q seakan ada di depanmu dan menceritakan semuanya secara langsung.

Ngomong-ngomong ada beberapa hal yang membuat cerita ini hampir mirip Looking for Alaska. Tokoh pria yang hanya memiliki beberapa teman, tokoh perempuan yang bebas dan cantik serta cerita tentang tokoh perempuan yang menghilang. Jika novel ini dibandingkan Looking for Alaska, Looking for Alaska menjadi pemenangnya. Dan kekurangan novel ini adalah masalah salah ketiknya yang lumayan banyak, beberapa kali terdapat kalimat tanpa spasi dan salah ketik lainnya.

Keterangan Buku:

Judul: Paper Towns

Penulis: John Green

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Penerjemah: Angelic Zaizai

Desain sampul: Martin Dima

Terbit: I, 2014

Tebal: 360 hlm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s