Majo, Si Bapak Rumah Tangga

Standard

Diikutkan Dalam Lomba Menulis Cerpen ‘Majo & Sady’

11011294_799121493475618_8276522854963876132_n

Mata Majo perlahan-lahan terbuka dari tidurnya. Kepalanya secara tidak sadar sudah menengok ke kanan dan kiri. Dia ingin memastikan keberadaan Sady, tapi tentu saja sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Sady sudah berangkat bekerja. Setelah menggeliat-geliat sejenak di tempat tidur Majo segera bangkit lalu pergi ke dapur.

“Astaga!!!” Bukan kali pertama memang tapi bagi Majo hal ini masih saja mengejutkan.

“Sady, kau ini benar-benar keterlaluan. Malasmu tidak ada yang menandingi,” ucap Majo sambil memandangi hal di depannya yang tidak bisa disebut indah ini.

Teflon bekas memasak telur masih berposisi cantik di atas kompor. Di sebelah kanannya ada mangkuk yang sebelumnya digunakan Sady untuk mengocok telur. Di sebelah kirinya ada kulit telur yang tentu saja tadi digunakan Sady untuk membuat menu sarapan. Kulit telur! Iya, Sady bahkan tidak menyingkirkan sampah itu.

Tanpa banyak omong Majo segera merapikannya. Teflon diletakkan di bak cuci piring. Kulit telur tentu saja dibuang ke tempat sampah. Hampir saja ingin bernapas lega, Majo masih harus membersihkan meja makan. Piring dan gelas yang dipakai Sady tidak disingkirkan. Jadi, tentu saja siapa lagi yang harus menyingkirkannya kalau bukan Majo. Yah, beginilah kehidupan rumah tangga mereka. Majo, sebagai suami rumah tangga harus benar-benar cekatan mengerjakan semua yang seharusnya dilakukan Sady.

“Hmmm… Jam berapa sekarang?” gumam Majo lalu menengok ke jam dinding di ruang keluarga.

Ternyata, saat ini sudah pukul 7.30. Tas belanja yang digantungkan di dapur segera diambil Majo. Tentu saja dia tidak lupa mengambil uang secukupnya untuk belanja di pasar, Majo kan bapak rumah tangga yang berpengalaman. Dengan berjalan kaki ke pasar yang tidak jauh dari apartemen miliknya, Majo memikirkan menu yang akan disiapkan untuk makan malam nanti.

“Hari ini Rabu,” ucap Majo pada dirinya sendiri. Dia lalu ingat, bahwa bahan utama makan malam hari Rabu adalah daging.

“Aduh, masak daging apa, ya? Daging ikan, sapi, ayam, ataukah babi saja?” lanjut Majo.

Tidak terasa dia kini sudah sampai di pasar. Majo melanjutkan perjalanan ke toko daging di dalam sana.

“Selamat pagi, Majo!” Bibi penjual daging yang ramah menyapanya.

“Pagi, Bibi!”

“Kau akan beli daging apa hari ini?” tanya bibi penjual daging. Majo berpikir sejenak, dia lalu melihat daging-daging segar yang terpajang di toko.

“Ayam saja,” jawab Majo.

“Kalau begitu kau ingin bagian apa?” tanya bibi penjual daging lagi.

“Paha,” jawab Majo singkat, matanya masih menelusuri berbagai jenis daging yang dipajang di sana.

“Paha apa, ya?” Bibi penjual daging bertanya dengan ramah.

“Paha atas saja.” Sekali lagi Majo menjawab dengan singkat.

“Berapa banyak yang akan kamu beli, Majo?” Bibi penjual daging bertanya lagi untuk yang keempat kalinya.

“Setengah kilo, Bibiii.” Majo yang sudah menghentikan kegiatan lihat-lihatnya itu menjawab dengan kesal.

Sesaat setelahnya Majo keluar dari toko daging, dia sudah menenteng tas belanja miliknya. Tas itu kini berisi setengah kilo daging ayam bagian paha atas. Dari toko daging, Majo lalu membeli beberapa bahan lainnya untuk memasak nanti. Dan ketika kembali ke rumah jam dinding sudah menunjukkan pukul 09.00.

Majo lalu duduk di sofa dengan lega, bahan-bahan untuk makan malam sudah siap. Tapi, matanya lalu melirik ke tumpukan baju di depan kamar mandi. Setelah mengumpulkan segenap tenaga, Majo bangkit.

Dia memindahkan semua pakaian kotor tadi ke dalam mesin cuci. Dengan sigap, Majo memasukkan detergent, air, kemudian menyalakan mesin cuci dengan cepat dan cekatan. Majo sudah cukup terampil untuk hal ini. Sambil menunggu mesin cuci selesai. Majo berniat memasak nasi dan paha ayam. Setelah membersihkan beras, Majo lalu memasukkannya ke dalam panci. Sambil menunggu nasi matang, paha ayam dibersihkan oleh Majo. Setelahnya paha setengah kilo tersebut lalu direbus dengan berbagai macam bumbu.

Pakaian sedang dicuci.

Nasi sedang dimasak.

Paha ayam sedang direbus.

Majo yang kelelahan lalu berniat istirahat dengan duduk di sofa yang empuk. Tapi lama kelamaan matanya terasa berat. Dan Majo, tanpa sadar dia jatuh tertidur.

Beberapa saat setelahnya, PRAAANNG!!!

“Begaalll!!!,” seru Majo. Beberapa detik setelahnya, dia lalu sadar dari tidurnya. Majo lalu segera melihat jam dinding. Yang ternyata sudah pukul 14.00. Majo panik sekali, dia sudah istirahat terlalu lama.

“Cuciann… Nasi…Paha…” Majo ketakutan membayangkan semuanya yang berantakan.

Sungguh sial bagi Majo. Belum sempat rasa paniknya hilang, pintu apartemennya terbuka. Hal itu diiringi dengan masuknya Sady.

“Kepalaku pusing sekali. Aku jadi pulang lebih awal, deh.” Sady sudah menjelaskan semuanya bahkan sebelum ditanya.

“Sayang, apa semuanya baik-baik saja?” tanya Sady.

“Luu..mayan,” jawab Majo dengan sedikit tergagap.

Melihat ada yang tidak beres, Sady segera masuk. Dia kelihatan syok melihat dapur yang berantakan. Tapi sungguh aneh, Sady tidak marah.

“Sayang…” Sady lalu menghampiri Majo dan memeluknya.

“Kau tidak marah?” Majo merasa aneh melihat tingkah Sady.

“Tidak, ini masalah kecil. Kita bisa membereskannya. Kau sudah berusaha dengan baik. Aku sadar, kok, tidak banyak yang berada di posisimu. Selama ini aku tahu kau sudah berusaha dengan sungguh-sungguh,” ucap Sady.

“Benarkah?” tanya Majo lagi.

Sady mengangguk kecil.

“Yah….meskipun hasilnya begini,” gumam Sady dengan perlahan.

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s