Review: Walking After You – Windry Ramadhina

Standard

Foto-0204

Ketika itu, kami masih anak-anak. Arlet menyukai kue Prancis dan aku jatuh hati pada masakkan Italia.

Ketika itu, segala sesuatu belum berubah rumit seperti sekarang.

[Halaman 4]

Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Mebuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali kepadanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu sejak berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang ternyata tak mampu ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkah kau merasa seperti itu?

Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memiilh berpaling karena terlalu takut bertemu luka

Mungkin, kisah An seperti kisahmu.

Diam-doa, doa yang sama masih kau tunggu.

Masa lalu akan tetap ada.

Kau tak perlu terlalu terjebak di dalamnya.

Sekarang, selamat datang di Afternoon Tea.


Selesai membaca novel ini, aku benar-benar lega. Lega dengan keputusan Anise alias An. Jika ditanya apa yang menjadikan novel ini spesial, maka jawabannya akan banyak banget. Sudah tahu novel ini cukup lama dari virtual blog tour-nya. Tapi kesempatan buat bacanya ternyata baru ada sekarang.

Jadi, hari itu aku ke perpustakaan. Keliling-keliling di rak buku-buku fiksi. Nggak ingat waktu itu lihat buku ini di rak atas, tengah, atau bawah. Yang aku ingat, buku ini tergolong ke buku-buku baru di perpustakaan. Dan, aku jadi peminjam kedua –membanggakan sekali.

Setelah baca sinopsis di back covernya, aku langsung jatuh cinta. Kata-kata yang dipilih untuk menggambarkan cerita memikat banget. Selesai baca prolog, novelnya pun langsung diangkut ke rumah. 😀

Penulis Walking After You, Mbak Windry Ramadhina hebat banget dalam menuliskan novel ini. Mungkin itu hasil dari proses menulis yang panjang –seperti yang disampaikan sebagai pengantar cerita. Aku, sebagai pembaca ikut membayangkan apa yang disebutkan di sana. Macam-macam kue, pasta, dekorasi di Afternoon Tea, dapur di Afternoon Tea, ruang baca An dan Arlet, dan sudut-sudut lainnya.

Karakter favorit di novel ini, aku pilih Julian. Chef utama di Afternoon Tea. Selalu menuntut kesempurnaan, penuh tanggung jawab, displin, rapi. Tapi ternyata dia sinis, galak, cuek, bukan pemaaf, dan juga gampang baper.

Julian adalah topik yang sering dijadikan bahan bercanda Anise dan Galuh –sepupunya sekaligus pemilik Afternoon Tea. Julian menjadi objek yang menarik karena responnya yang menggemaskan. 😀 Pipinya itu akan langsung bersemu merah, saat tahu dirinya dibicarakan. Dan itu jadi bagian favoritku di sini.

Oh, ya, di Walking After You juga hadir konflik lain selain dari para tokoh utamanya. Akan muncul Ayu dengan ceritanya tentang Hujan dan Souffle. Perempuan misterius itu akan selalu hadir ke Afternoon Tea di kala hujan sambil membawa payung merah. Pesanan wanita itu juga selalu sama, Souffle. Yang tidak pernah dimakan apalagi disentuhnya.

Aku bersyukur banget saat akhirnya bisa membaca novel ini. Entah apa saja riset yang dilakukan Mbak Windry untuk menyelesaikan novel ini, karena aku sangat menikmati saat membacanya. Di bagian lucu, menjadi ikut ketawa. Sedangkan di bagian sedih, menjadi ikut sedih bahkan menangis.

Jika kamu belum menikmati kisah An, aku rasa itu perlu disegerakan. Sebelum bulan atau tahun berganti. Karena semakin banyak waktu berlalu, semakin banyak buku baru yang ingin dibaca.

Dari Walking After You, aku jadi tahu hal-hal terkait masakan –khususnya kue. Juga jadi paham kalau memaafkan itu bukan hal mudah, apalagi memaafkan diri sendiri. Dan jadi mengerti, sangat berartinya kasih sayang orang-orang di sekitar kita.

Selama membaca Walking After You, ada typo yang aku temukan

“Dan lagi, sejak kapan kau bekerja di Tea Afternoon bukan untuk main-main?” [Halaman 223].

Seharusnya adalah Afternoon Tea. Nggak tahu jika ada salah ketik lainnya, tapi sepertinya cuma itu.

Yeah, aku suka banget novel ini. Dan sepertinya akan jadi novel romance favoritku selain A Dandelion Wish. Mbak Windry, ditunggu karya-karya selanjutnya. 🙂

Dengan menerima, aku punya kesempatan untuk belajar memaafkan diri sendiri.

Halaman 293.

Penulis: Windry Ramadhina

Editor: Gita Romadhona dan Ayuning

Penyelaras aksara: Mita . Supardi dan Widyawati O.

Penata Letak: Ria Kenes dan Gita Ramayudha

Desainer Sampul: Dwi Anisa Anindhika

Penerbit: GagasMedia

Terbit: III, 2015

Tebal: 320 hlm

Advertisements

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s