Review: A Little Princess by Frances H. Burnett

Standard

Foto-0193

Sara, putri satu-satunya dari Kapten Crewe merupakan anak yang spesial. Dia mempunyai tingkat imajinasi yang amat tinggi dan otak yang cerdas. Di usia yang ketujuh, Sara disekolahkan oleh ayahnya di Asrama Putri Pilihan milik Miss Minchin.

Miss Minchin pemilik asrama itu adalah orang yang tamak dan kasar. Matanya besar, dingin, dan penuh curiga. Begitu tahu Sara akan menjadi salah seorang muridnya, dia begitu gembira. Miss Minchin tahu benar jika Kapten Crewe yang amat kaya itu sangat memanjakan Sara.

Sebagai murid di asrama milik Miss Minchin, Sara selalu menjadi yang terbaik. Entah dalam penampilan maupun dalam pelajaran. Miss Minchin begitu membanggakan Sara. Dalam pertemanan pun Sara tidak mengalami masalah. Sara yang pandai bisa berteman dengan siapapun.

Tapi ternyata kehidupan menyenangkan Sara langsung berubah seketika hanya dalam sehari. Ketika perayaan ulang tahun yang ke-11 dilaksanakan, Sara begitu gembira. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama karena dihentikan oleh Miss Minchin. Perasaan bahagia tadi juga semakin tak bersisa dengan berita yang dibawa Miss Minchin.

Di usia yang ke-11, Sara mendapat banyak perubahan. Dia berubah menjadi anak yatim piatu. Dia berubah menjadi mantan murid Asrama Putri Pilihan kemudian berubah menjadi pembantu di sana. Selain itu, kamar tidur Sara juga berubah. Kamar tidurnya telah berpindah ke loteng.

Meski mengalami perubahan yang benar-benar drastis, Sara selalu optimis. Dia menerima semua perintah yang diberikan padanya. Dalam masa sulitnya, Sara mulai kehilangan kehilangan teman-temannya. Hanya Ermengarde, Lottie, serta Becky –sesama pesuruh–yang selalu menemaninya. Sara merasa kondisi ini akan segera berakhir.

Tetapi, setelah setahun berlalu semuanya tidak berubah. Sara yang mulai ragu tetap bertahan. Dia berharap tidak akan kehilangan segala pelajaran yang pernah diterimanya dulu.

“Apa pun yang terjadi denganmu –apa pun itu–kamu masih seorang putri. Dan tidak ada yang sanggup mengubah hal itu.” [Halaman 120]

Adakah keajaiban yang bisa mengembalikan kebahagiaan Sara yang kini sebatang kara?


A Little Princess merupakan kisah yang amat menarik. Sebagai tokoh utamanya, Sara Crewe memberikan banyak sekali pesan positif yang diajarkan untuk para pembaca. Bagian paling menarik di sini menurutku adalah setiap kali Sara mengungkapkan imajinasinya. Cerita-cerita yang disampaikan oleh Sara terbukti dapat menyelesaikan masalah. Menenangkan Lottie yang cengeng misalnya.

Sara Crewe yang selalu dimanja namun begitu mandiri, dapat mengajarkan arti sejati menjadi seorang putri. Ketika memperoleh segala kemewahan di hidupnya, Sara selalu bersikap dewasa. Dia selalu berbuat baik dengan siapapun dan tidak segan menolong teman yang kesusahan. Terbukti dengan bantuannya pada Ermengarde yang kesulitan belajar bahasa Prancis.

Saat hidupnya sedang sulit, kebaikan hatinya ternyata tidak berubah. Sara seakan menunjukkan bahwa berbuat baik saat kita mampu akan sangat mudah, namun ketika kita sedang sulit itu bukan hal mustahil. Peristiwa yang paling menyentuh di sini adalah saat Sara memberikan makanannya pada seorang anak kecil. Meskipun kondisinya sedang sangat lapar, Sara tetap rela memberikan roti-rotinya pada anak itu. Sedangkan untuk dirinya, Sara hanya menyisakan satu roti.

Walaupun ini hanya novel fiksi tentang seorang gadis kecil, pesannya sangat berguna bagi segala usia.

Dari isi yang disampaikan melalui A Little Princess, novel ini cocok untuk yang mencari bacaan ringan namun sarat makna.

Sampul novel ini pun sangat cantik. Suka sekali melihat kombinasi warna-warnanya. Satu hal yang menjadi kekurangan paling besar dari A Little Princess adalah salah ketik yang jumlahnya banyak. Tapi saking bagusnya cerita, jadi tetap lanjut saja sampai akhir. 😀

“Ketika emosimu tidak mudah terpancing, orang akan tahu kamu lebih kuat dibandingkan mereka karena kamu mampu menahan kemarahnmu, sedangkan mereka tidak –dan mereka sering menyesal telah mengatakan sesuatu yang bodoh.” [Halaman 166]

Judul: A Little Princess

Penulis: Frances Hodgson Burnett

Penerjemah: Teguh Hari

Penyunting: Jia Effendie dan Ida Wajdi

Pewajah Isis: Aniza Pujiati

Penerbit: Atria

Terbit: I, Januari 2015

Tebal: 336

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s