Review : Ulysses Moore -Pintu Waktu

Standard

Foto-0193

“…dunia ini penuh risiko dan bahaya. Begitulah kehidupan.”

[Halaman 17]

Tuan dan Nyonya Covenant sudah menemukan rumah baru untuk tempat tinggal keluarga batih mereka. Rumah baru itu bernama Argo Manor yang terletak di desa kecil, Kilmore Cove. Rumah cantik yang bertengger di atas sebuah tebing tinggi yang menghadap ke laut. Jauh di bawa tebing, ombak berdebur menghantam karang.

Rumah itu dikepung birunya laut dan langit. Tuan dan Nyonya Covenant dapat tinggal di sana setelah memenuhi syarat dari pemilik sebelumnya; Ulysses Moore. Pesan agar penghuni rumah itu setidaknya adalah keluarga yang setidaknya memiliki dua orang anak. Sungguh pas sekali, Tuan dan Nyona Covenant memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan.

Jason dan Julia adalah anak kembar keluarga Covenant. Namun sifat mereka sangat berbanding terbalik. Jason yang sangat imajinatif tertarik sekali terhadap petualangan sedangkan Julia lebih suka menikmati hidupnya dengan berjalan-jalan santai di mall. Ketika Tuan dan Nyonya Covenant kembali ke London untuk menyelesaikan urusan kepindahan mereka, Jason dan Julia harus tinggal di Argo Manor ditemani Nestor, si pelayan rumah. Dan saat itulah petualangan mereka dimulai…

Jason dan Julia bersama Rick –teman baru mereka dari Kilmore Cove menemukan misteri-misteri tak terduga dari Argo Manor. Seusai berenang di pantai, tiga anak itu memutuskan kembali ke Argo Manor. Tapi Jason sungguh sial, dirinya tergelincir dan tubuhnya meluncur menuruni tebing batu. Ketika kedua kakinya sudah bisa menjejak ke tanah lagi, Jason merutuki kesalahannya karena hampir saja kehilangan nyawa. Tapi lebih dari itu, dia menyadari menemukan sesuatu yang menjadi bagian misteri Argo Manor dan pemilik sebelumnya, Ulysses Moore.

Sebuah kotak dengan boa-bola tanah liat dan pesan dengan simbol-simbol misterius. Jawaban dari pesan itu bukanlah akhir misteri Argo Manor, namun merupakan awalnya. Jason, Julia, dan Rick semakin masuk ke dalam misteri yang ada di dalam Argo Manor. Dan salah satu pintu di Argo Manor, pintu rahasia dengan goresan-goresan dan bekas terbakar itu adalah jalan pembuka ke petualangan besar mereka.

Di samping itu, ada orang-orang yang terus mengintai pergerakan Jason, Rick, dan Julia. Meski terlihat tak acuh, si penjaga rumah, Nestor diam-diam mengawasi tiga orang anak itu. Serta tidak lupa, Nyonya Oblivia Newton. Perempuan yang tidak bisa menerima penolakan. Dia, entah mengapa sangat ingin memiliki Argo Manor.

Misteri apa yang sebenarnya ada di Argo Manor?

Serta Ulysses Moore, siapa dia?

Entah mengapa ada seseorang yang menyingkirkan fotonya dari deretan penghuni Argo Manor.


Menarik. Kata itu cocok sekali menggambarkan keseluruhan buku ini. Bahkan dari cover depannya kita bisa lihat kalau kisah di buku ini pantas banget buat dibaca. Hal yang paling beda pada sampul buku ini dibanding mayoritas buku lainnya adalah nama penulis yang tidak dicantumkan.

Lanjut ke halaman-halaman berikutnya, buku ini akan memberikan ilustrasi-ilustrasi yang menarik. Perdomenicco Baccalario selaku penulis dan pihak penerbit berusaha sekali membuat pembaca yakin cerita ini nyata. Sekalipun setting tempat ini, yaitu Desa Kilmore Cove cuma fiksi. Usaha untuk membuat buku ini seakan nyata patut sekali diacungi jempol. Salah satu hal yang dapat membuat pembaca yakin cerita ini benar adalah lampiran email yang ditujukan pada editor Erlangga –penerbit.

Foto-0194

Pembuka Ulysses Moore -Pintu Waktu

Ulysses Moore –Pintu Waktu merupakan seri pertama dari serial Ulysses Moore. Di buku ini diawali dari kepindahan keluarga Covenant ke Argo Manor. Rumah yang indah dan luas di Kilmore Cove. Cerita di Ulysses Moore sama sekali nggak membuat bosan untuk diikuti. Petualangan tiga anak kecil membuka sebuah misteri yang tersimpan di sana.

Tiga anak kecil itu sangat yakin pemilik sebelumnya, Ulysses Moore menyimpan sebuah rahasia besar di sana. Rasanya rahasia-rahasia yang ada di buku ini berlapis-lapis. Tiap Jason, Julia, dan Rick berhasil mengungkap jawaban sebuah misteri, mereka akan kembali menemukan misteri lain. Yang semakin rumit untuk dipecahkan.

Membaca Ulysses Moore, menurutku bikin ketagihan sampai akhir sekaligus kesel. Kesel karena ini merupakan sebuah serial yang bagiku cukup panjang –lebih dari sepuluh seri. Di Indonesia sendiri bahkan baru terbit seri keenamnya. Jadi perlu persiapan juga, kalau tiba-tiba penerbit memutuskan tidak melanjutkan penerbitan sampai seri terakhir bisa bikin kecewa di tengah jalan.

Tapi meski begitu, serial ini pantas banget buat diikuti dan terus ditunggu kelanjutannya. Kekurangan dari buku ini, dari awal sampai akhir membaca ceritanya, aku rasa… nggak ada. Meski buku ini ditujukkan untuk anak-anak, sesuai dengan lini penerbitnya –Erlangga for Kids, orang dewasa, anak SMA misalnya, juga cocok membaca buku ini. Ulysses Moore bisa jadi pilihan yang baik mengisi waktu senggang.

Seorang pahlawan tidak memilih jalan hidupnya. Ia hanya menjalaninya sampai akhir.

[Halaman 161]

Keterangan Buku:

Judul Buku: Ulysses Moore- pintu waktu

Penulis: Perdomenico Baccalario

Penerjemah: Damaring Tyas Wulandari

Editor: Danu Nugraha, Rani Nuraeni

Penerbit: Erlangga For Kids

Tebal: 222 hlm

Jika sudah selesai di sini, bersiap lanjutkan ke petualangan berikutnya. Ulysses Moore -Peta yang Hilang.

741821f2ba4d915fe03ba8837858109c

Advertisements

3 responses »

  1. Kok kesel to.
    Besok habis semesteran ditamatin. 😀
    Eh, habis yg ke6 ceritanya apa to?
    Masih sekuelnya apa prekuel apa gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s